Www.tribratanewsacehbesar.com-[Sabtu (28 /10/2017) pukul 09.18 wib dilapangan Bungoeng Jeumpa Kota Jantho sedang berlangsung Upacara Bendera Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke -89 Tahun 2017.

Kegiatan Hari Sumpah Pemuda dihadiri oleh
Bupati Aceh Besar Ir.Mawardi Ali, Wakil Bupati Aceh Besar Tgk.H.Husaini A.Wahab, Kolonel pnb sulistio, S.sos. (mewakili Dan Lanud IM ), Dan Yon Kav.Letkol.Kav. Nanak Yuliana,SE.MM, Ketua MPU Aceh Besar Tgk.H Muksalmina A.Wahab, Kabag Ops Polres Aceh Besar Kompol Zuliadin (mewakili Kapolres), Panmud Pidana Sofian,SH (mewakili Ketua PN Jantho), Sekdakab Aceh Besar Drs.Iskandar,M.Si, Wakil Ketua DPRK Aceh Besar Anshari Muhammad,Spt, Wakil Ketua DPRK Zulfikar.SH, Sekretaris DPRK Aceh Besar Drs.Jamaluddin, Ka Lapas kles IIBJantho Yusnaidi,SH, Para Kepala SKPD, Ketua KNPI Aceh Besar Rahmad Aulia,Spdi beserta Pengurus, Kapolsek Kota Jantho Ipda Safriadi, SE, Para Camat Se Kab Aceh Besar. Peserta Upacara terdiri dari
Instansi Pemerintahan Kab.Aceh Besar, Mahasiswa ISBI, KNPI, Para Pemuda ditiap Kecamatan se Kab.Aceh Besar.

Upacara Memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-89 tahun 2017 yang bertindak selaku Irup Bupati Aceh Besar Ir.Mawardi Ali dan Dan Up Adzwar Herrawan serta Perwira Upacara Drs.Sulaimi,M.Si

Amanat Inspektur Upacara
Para Pemuda Indonesia dan Hadirin Sekalian yang kami hormati, Delapan puluh sembilan tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 28 oktober 1928, sebanyak 71 pemuda dari seluruh penjuru bumi, berkumpul di gedung di jalan Kramat Raya, daerah Kwitang Jakarta. Mereka mengikrarkan diri sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu, indonesia.

Sungguh sebuah ikrar yang sangat monumental bagi perjalanan sejarah bangsa indonesia. lkrar ini 17 tahun kemudian melahirkan proklamasi kemerdekaan Repbulik Indonesia, tanggal 17 Agustus 1945. Sumpah Pemuda dibacakan di arena Kongres Pemuda ke-2, dihadiri oleh pemuda lintas suku, agama dan daera Jika kita membaca dokumen sejarah Kongres Pemuda ke-2 kita akan temukan daftar panitia dan peserta kongres yang berasal dari pulau-pulau terjauh indonesia. Secara imajinatif sulit rasanya rasanya mereka bisa bertemu dengan mudah.

Dari belahan barat Indonesia, terdapat nama Mohammad Yamin, Seorang pemuda kelahiran Sawah Lunto Sumatera Barat yang mewakili organisasi pemuda Sumatera, jong Sumatranen Bond. Dari belahan Timur Indonesia kita menemukan pemuda bernama Johannes Leimena, kelahiran Kota Ambon Maluku, perwakilan organisasi pemuda dari Ambon. Ada juga Katjasungkana dari Madura, ada juga Cornelis Lefrand Senduk, Sulawesi, dari Celebes.

Para pemuda Indonesia dan hadirin sekalian yang kita banggakan pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Mohammad Yamin dari Sawah Lunto dapat bertemu dengan Johannes Leimena dari Ambon? Pernahkah kita membayangkan bagaimana seorang Katjasungkana dari Madura dapat bertemu dengan Lefrand Senduk dari Sulawesi? Bukan hanya bertemu, tapi mereka juga berdiskusi, bertukar pikiran, mematangkan ide untuk akhirnya bersepakat mengikatkan diri dalam komitmen indonesiaan. Jarak antara Sawah Lunto dengan Kota Ambon, lebih dari 4.000 kilometer. Hampir sama dengan jarak antara Kota Jakarta ke Kota Sanghai di Cina, Sarana transportasi umum saat itu, masih mengandalkan laut, dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk bisa sampai ke Kota mereka, Alat komunikasi pun masih terbatas, mengandalkan korespondensi melalui pos. Hari ini mengirim surat dua bulan kemudian baru sampai tujuan , Belum lagi kalau kita berbicara tentang perbedaan agama dan bahasa dimana Mohammad Yamin beragama Islam Melayu, Johannes Leimena beragama Protestan berbicara Ambon. Begitupun dengan Katjasungkana, Lefrand Senduk, dan 71 pemuda peserta kongres lainnya. Mereka memiliki latar belakang agama, suku, bahasa dan adat istiadat yang berbeda-beda , Namun fakta sejarah menunjukkan sekat dan batasan-batasan ini tidak menjadi halangan bagi para pemuda Indonesia untuk bersatu demi cita-cita besar indonesia. Inilah yang kita sebut dengan; “Berani Bersatu”.

Para pemuda Indonesia dan hadirin sekalian yang berbahagia, Kita tentu patut bersyukur atas sumbangsih para pemuda Indonesia yang sudah melahirkan sumpah Pemuda, Sudah seharusnya kita meneladani langkah-langkah dan keberanian mereka agar mampu menorehkan sejarah emas untuk bangsanya. Dengan ini sekarang, sarana transportasi umum sangat mudah. Untuk menjangkau ujung timur dan barat Indonesia hanya dibutuhkan waktu beberapa jam saja untuk bisa berkomunikasi dengan pemuda di pelosok-pelosok negeri ini, cukup dengan menggunakan alat komunikasi tidak perlu menunggu datangnya tukang pos hingga berbulan-bulan. Interaksi sosial dapat dilakukan 24 jam, kapanpun dan dimanapun. Namun anehnya dengan berbagai macam hal yang kita miliki hari ini, kita lebih sering berselisih paham, mudah sekali menvonis orang, mudah sekali berprom belah, saling mengutuk satu dengan yang lain, menebar fitnah dan kebencian. Seolah-olah kita ini oleh jarak yang tak terjangkau, atau berada di ruang yang tidak terjamah atau terhalang oleh tembok raksasa yang tinggi dan tebal agar tidak dapat ditembus oleh siapapun. dengan tujuan teknologi dan sarana transportasi yang kita miliki hari ini lebih mudah buat kita untuk mendapatkan kesatuan bersilaturrahim dan saling sosial. Sebetulnya tidak ada ruang untuk salah paham apalagi membenci, karena semua hal bisa kita konfirmasi dan kita klarifikasi hanya dalam hitungan detik.

Para pemuda Indonesia dan hadirin sekalian yang kami banggakan, Dalam sebuah kesempatan, Presiden Republik Indonesia yang pertama, Bung Karno pernah menyampaikan: “Jangan mewarisi abu Sumpah Pemuda, tapi warisilah api Sumpah Pemuda. Kalau ada yang mewarisi abu saudara-saudara akan puas dengan Indonesia yang sekarang sudah satu bahasa, satu bangsa, dan satu tanah air.Tapi ini bukan tujuan akhir, “Pesan yang disampaikan oleh Bung Karno ini sangat mendalam bagi generasi muda Indonesia. Api sumpah pemuda harus kita ambil dan terus kita nyalakan. Kita harus berani melawan segala bentuk upaya yang ingin memecah belah persatuan dan kesatuan bangsa. Kita juga harus berani melawan ego kesukuan, keagamaan dan kedaerahan kita. Ego ini yang kadangkala mengemukan dan menggerus persaudaraan kita sesama anak bangsa, Kita harus berani mengatakan bahwa Persatuan Indonesia adalah segalanya-galanya, jauh di atas persatuan keagamaan, kesukuan, kedaerahan, apalagi golongan. Mari kita cukupkan persatuan dan kesatuan indonesia. Berhenti segala bentuk perdebatan yang mengarah pada perpecahan bangsa. Kita seharusnya malu dengan para pemuda 1928 dan juga untuk Bung Karno, karena masih harus berkutat di soal-soal ini.

Sudah saatnya kita melangkah ke tujuan yang lebih besar, yaitu mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia. Kami menghargai bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Presiden Republik Indonesia, Bpk Ir. Joko Widodo yang selama ini memberikan perhatian yang sangat besar terhadap pembangunan kepemudaan indonesia. Bulan Juli 2017 yang lalu Bapak Presiden telah terpilih kembali Peraturan Presiden Nomor 66 Tahun 2017 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan. Melalui Perpres ini, peta jalan pemuda Indonesia terus kita gelorakan. Bersama pemerintah daerah, organisasi kepemudaan dan sektor swasta, kita bergandengan tangan, bergotong royong masa lalu semangat Sumpah Pemuda 1928.

Upacara Selesai dan dilanjutkan dengan 1001 Cangkir (ngopi bersama Bupati Aceh Besar.

Comments

comments